Minggu, 06 Maret 2011
Strategi Karbohidrat untuk Latihan Beban
Sabtu, 05 Maret 2011
Nutrisi saat Prakonsepsi (Sebelum Kehamilan)
Alhamdulillah sebulan sudah aku menjalani pernikahan. Tujuan dalam pernikahan salah satunya ingin memiliki anak. Untuk ke arah sana, selain persiapan mental, aku&suami dan tentunya juga teman-teman yang telah menikah, perlu menyiapkan diri di masa prakonsepsi, agar masa kehamilan, kelahiran dan bayi yang terlahir nantinya sehat. Ada makanan pendukung dan penghambat di masa prakonsepsi ini, pastinya sebagai calon ayah dan bunda, kita harus cermat memilih makanan.
Makanan pendukung
Untuk Calon ayah
Untuk calon Bunda
Makanan penghambat untuk keduanya :
Makanan pendukung
Untuk Calon ayah
- Protein : Telur, daging tanpa lemak, dada ayam, ikan. Fungsinya untuk meningkatkan produksi sperma
- Zat seng (Zinc), misalnya, kerang, beef tenderloin, kacang merah, daging dada ayam. Bermanfaat mencegah penurunan volume semen dan kadar hormon testoteron
- Asam Folat : sereal gandum, sayuran hijau, kacang polong. Bermanfaat mencegah risiko penurunan jumlah dan kualitas sperma
- Vitamin C dan Antioksidan, misalnya, Jus Jeruk, buah kiwi, jambu biji, terong ungu. Bermanfaat mencegah kerusakan sperma dan meningkatkan gerakan (motilitas) sperma
- Kalsium dan vitamin D, misalnya, susu, salmon, keju, telur. Bermanfaat meningkatkan gerakan sperma
- Vitamin A dan E. Sumber : Hati ayam/sapi, buah berwarna merah dan sayuran (tauge). Bermanfaat agar pembentukan sperma tidak terhambat
- Kalium. Sumber : kembang kol, bayam, tomat,alpukat, Pisang. Bermanfaat untuk meningkatkan energi dan memperbaiki libido.
Untuk calon Bunda
- Asam folat, penting bagi calon bunda sejak prakonsepsi sampai kehamilan trimester pertama. Berperan dalam perkembangan sistem saraf pusat dan darah janin. Cukup asam folat mengurangi risiko bayi lahir dengan cacat sistem saraf sebanyak 70%. Sumber sayuran hijau tua, jeruk, alpukat, hati sapi, kedelai, tempe dan serealia
- Zinc (zat seng). Bagi bunda, seng membantu produksi materi genetik ketika pembuahan terjadi.
- Zat besi (Fe), karena kekurangan zat ini membuat siklus ovulasi (pelepasan sel telur) bunda terganggu. Sumber : hati ayam/sapi, daging merah, kuning telur, sayuran hijau, jeruk dan serealia yang diperkaya zat besi
Makanan penghambat untuk keduanya :
- Junkfood. Untuk calon ayah dan bunda sebaiknya tolak dan hindari makanan yang tidak mengandung variasi nutrisi serta gizi yang cukup dan seimbang ini. Misalnya, makanan yang kaya kalori tetapi kurang protein, mineral dan vitamin. Seperti yang banyak terdapat pada makanan cepat saji : burger, ayam goreng, kentang goreng, yang sebagian besar hanya mengandung karbohidrat dan lemak saja tetapi minim zat gizi lainnya.
- Makanan awetan. Kurangi konsumsi makanan olahan yang diawetkan, seperti makanan kalengan, instan dan minuman ringan. Sesekali tidak menjadi masalah, sebisa mungkin hindari tubuh dari paparan zat pengawet, pewarna atau zat lainnya yang kurang mendukung tubuh untuk meregenerasi sel-sel tubuh terutama kualitas sel telur dengan baik.
- Kafein. Batasi hanya 1-2 cangkir sehari, jangan melebihi dari 3 cangkir dengan kandungan cafein sekitar 300 mg karena dapat menurunkan kehamilan.
- Alkohol. Perempuan yang minum alkohol sedikitnya lima kali dalam seminggu, secara signifikan memiliki kemungkinan rendah untuk bisa hamil. Hndari minum alkohol sama sekali selama tiga bulan sebelum merencanakan kehamilan. Sedangkan untuk kaum pria, minum alkohol 3-4 gelas sehari dapat mempengaruhi kualitas sperma dengan menurunkan tingkat testosteron dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan testis layu.
- Rokok. Perempuan merokok secara langsung menurunkan kesuburan. Pria merokok memiliki lebih sedikit sperma ketika ejakulasi. Dan secara medis, merokok terbukti menyebabkan impotensi. Laki-laki harus berhenti merokok sekurang-kurangnya tiga bulan sebelum merencanakan untuk memiliki bayi. Butuh 100 hari untuk membuat sperma, dan 100 hari itulah di mana sperma yang mengalami kerusakan dapat diperbaiki. Orang tua perokok juga memiliki kemungkinan untuk menghasilkan anak cacat genetik dan memiliki dua kali risiko lebih besar untuk mengidap kanker anak.
Langganan:
Postingan (Atom)